Tema: Guru dan Kurikulum Pendidikan Anti Radikalisme

KONCO — Lembaga pendidikan merupakan agen transfer kesadaran dan ilmu pengetahuan. Maka, adalah sangat penting untuk memperhatikan subyek yang melakukan transfer kesadaran dan ilmu pengetahuan tersebut. Subyek yang dimaksud di sini adalah guru/pendidik. Didukung oleh koridor penting lainnya yaitu kurikulum. Guru dan kurikulum harus menyiapkan diri pada antisipasi terhadap kecenderungan masuknya unsur-unsur radikal ke dalam keseluruhan tubuh masyarakat dan negara.

 

Melempar ingatan pada sekitar sepuluh tahun terakhir, ada suatu cerita tentang beberapa pemuda (di kota yang berbeda) yang tetiba menghilang dari kampus dan keluarganya. Tiga bulan kemudian mereka kembali lagi ke kampus dan keluarganya dengan keadaan yang berbeda. Pemuda yang semula lincah, bersemangat dan amat ramah dengan tetangga dan teman kuliah, tetiba menjadi pendiam, acuh dan menjaga jarak dengan keluarga, termasuk ibunya sendiri. Mereka tidak lagi mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tertentu yang sebelumnya mereka kerjakan. Mereka banyak merenung, menutup diri di kamar dan hanya berbicara jika ditanya. Begitu juga di kampus. Kebiasaan lama mereka hilang dan kini hanya mau menyendiri, atau berkumpul dengan orang-orang yang menurut mereka se- faham dengannya, dan sering beribadah sendiri. Kadang mereka menghilang selama beberapa hari dan kemudian kembali lagi.

 

Beberapa pihak menengarai bahwa para pemuda yang ‘menjadi aneh’ itu adalah pemuda yang terpapar faham radikal yang berasal dari lingkungan yang berbeda dengan lingkungan asalnya.  Mereka terpapar karena bergaul dan didoktrin oleh oknum asing.

 

Dan kini, fenomena itu menjadi lebih sering dan lebih mudah terjadi. Proses radikalisasi para pemuda kini lebih mudah yakni melalui teknologi berupa media online, paling banyak adalah sosial media. Orang tak perlu bertemu, dengan hanya membaca lewat gawai dan bilik-bilik warnet, proses doktrinasi dan radikalisasi dapat berlangsung.

 

Menurut survei yang dilakukan oleh Mata Air Fondation dan Alvara Research Center menunjukkan bahwa 23,4 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah. Dari survei ini juga diketahui ada 23,5 persen mahasiswa dan 16,3 persen pelajar menyatakan negara Islam perlu diperjuangkan untuk penerapan agama secara kaaffah (keseluruhan). Lalu ketika ditanya tentang perda syariah, ada 21,9 persen pelajar dan 19,6 persen mahasiswa setuju perda syariah untuk mengakomodasi penganut agama mayoritas. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas pelajar dan mahasiswa memang setuju dengan NKRI sebagai bentuk negara dibanding khilafah. Namun, persentase pelajar dan mahasiswa yang memilih khilafah dibanding NKRI ini juga tidak bisa diremehkan.

 

Direktur Peace Generation, Irfan Amalee mengungkapkan indoktrinasi paham radikal itu dilakukan dalam berbagai cara. Ada beberapa narasi dalam perekrutan kelompok-kelompok radikal yang harus dipahami oleh guru dan siswa, diantaranya:

 

Pertama, kelompok radikal biasanya menggunakan narasi politik.

Kedua, kelompok radikal juga menggunakan narasi historis. Menurut Irfan, ini juga perlu diperhatikan oleh para pendidik dalam pendidikan sejarah. Karena bisa saja pendidikan sejarah itu bukan membangkitkan wisdom tapi justru membangkitkan dendam.

Ketiga, narasi psikologis, atau mengglorifikasi tokoh-tokoh kekerasan sebagai pahlawan. Keempat, instrumental naration atau menganggap kekerasan itu sebagai solusi memecahkan masalah.

Terakhir adalah narasi keagamaan atau menggunakan ayat-ayat untuk merekrut anggota baru. Mereka mencomot, ambil sana-sini sepenggal ayat yang kalau anak-anak membaca dan mendengar itu, dan gurunya tidak paham, guru bisa kalah. Hal ini akan semakin membuat anak ingin bergabung dengan kelompok radikal. Dan ini merupakan cara (perekrutan) yang paling efektif.

 

Pelajar dan mahasiswa yang statusnya masih dalam masa pencarian jati diri, mereka masih rentan terhadap doktrin radikalisme dan intoleransi. Maka dari itu, peningkatan pemahaman baik pendidik dan pelajar akan bahaya radikalisme menjadi penting untuk menangkal perkembang-biakannya. Gagasan kurikulum anti radikalisme yang saat ini masih baru dalam ranah kurikulum pendidikan harus dikembangkan dan diseriusi oleh akademisi dan praktisi sekolah juga perguruan tinggi. Karena kurikulum anti radikal ini dapat memberi penekanan bahwa negara kita terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang menimbulkan banyak perbedaan, dan ini akan menghindarkan kita dari pandangan sempit terhadap sesuatu.

Please follow and like us:

Post Author: konco

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *