Senandung Perdamaian Dalam Sekuel Ayat-Ayat Cinta

Oleh: Rego Yasendalika

Disunting oleh: Muhammad Abdul Aziz

“Yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri, dan yang paling layak untuk di musuhi ialah permusuhan itu sendiri”.

– Syekh Badluzzamain Saidnursi-

9 tahun merupakan waktu yang cukup panjang untuk menumbuhkan kerinduan bagi para penikmat film Ayat-Ayat Cinta (AAC). Yang mana hal ini juga berarti akan memberikan beban berat bagi AAC 2. Pada film pertama Hanung Bramantyo telah “luar biasa sukses” menghidupkan sosok Fahri dan Aisha dengan begitu sempurna. Sehingga keduanya menjadi idola sekaligus sosok impian.

Kisah dalam film pertama telah menancap begitu mendalam dalam hati tiap penontonnya. Romansa relijius dengan kisah yang sangat mengiris-iris kalbu benar-benar menjadi trade mark bagi brand besar Ayat-Ayat Cinta. Beban ini terpikul berat di pundak Guntur Soehardjanto yang dipercaya untuk duduk di kursi sutradara.

Dalam sekuelnya, film ini menambahkan aspek perdamaian umat beragama  sebagai bumbu barunya. Hal ini tergambarkan dalam kenampakan lingkungan sosial film AAC 2 yang mana menganut berbagai macam agama.

Sebagai contoh, Keira (Chelsea Islan) yang tumbuh dalam keluarga Kristen, Brenda (Nur Fazura) yang begitu hedonis, dan nenek Catarina (Dewi Irawan) yang seorang Yahudi.

Kenyataannya hubungan antara latar beakang yang berbeda ini, khususnya Islam dan Yahudi penuh dengan perperangan, permusuhan, prasangka dan kebencian. Hal inilah yang memotivasi Fahri (Feri Nuril) untuk berdiri dalam sebuah forum debat demi mengkritisi pemikiran Samuel Huntington mengenai “Clash of Civilization”, sebagai pendapat yang bias provokatif.

Dimana pemikirannya pasca perang dingin, yang berbunyi bahwa dunia akan lebih banyak di dominasi oleh dinamika politik yang terjadi antara peradaban (kultural) alih-alih konflik antara Nasionalisme Kenegaraan seperti yang terjadi pada Perang Dingin ( negara perang melawan negara, atau fakta melawan fakta ).

Pemikiran kritis Fahri mengambil perspective Ulama Turki, Syekh Badluzzamain Saidnursi yang menerangkan bahwa “yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri, dan yang paling layak untuk di musuhi ialah permusuhan itu sendiri”.

Melalui geliat perbedaan inilah AAC2 mencoba untuk berbicara mengenai perdamaian. Melalui cerita yang dibangun berdasarkan keberagaman, keadaan sosial dilingkungan Fahri, para tetangga, dan peran yang dimainkan oleh para pemain pendukung, semuanya dilumatkan dalam wadah yang dimaksudkan memberikan refleksi terhadap keadaan yang terjadi di kehidupan nyata.

Sebagaimana dalam teori pembentukan realita sosial yang dikemukakan oleh Berger dan Luckman, yang berpendapat bahwa institusi masyarakat tercipta dan dipertahankan atau diubah melalui tindakan dan interaksi manusia, walaupun masyarakat dan institusi sosial terlihat nyata secara obyektif, namun pada kenyataannya semua dibentuk dalam definisi subjektif melalui proses interaksi.

Objektivitas dapat terjadi melalui penegasan berulang-ulang yang diberikan oleh orang lain, yang memiliki definisi subjektif yang sama. Pada tingkat generalitas yang paling tinggi, manusia menciptakan dunia dalam makna simbolis yang universal, yaitu pandangan hidup menyeluruh yang memberi legitimasi dan mengatur bentuk-bentuk sosial, serta memberi makna pada berbagai bidang kehidupannya.

Inilah yang dilakukan fahri dalam lingkunganya. Fahri membentuk realita baru di tengah-tengah masyarakat yaitu pemikiran umat beragama lain yang anti-Islam.

AAC 2 diharapkan menjadi kacamata baru bagi umat beragama dalam memandang perdamaian sebagai jawaban dari permasalahan bersama.

Pesan yang coba Fahri sampaikan melalui AAC 2 sangatlah jelas, yaitu manusia tidak bisa menentang kehendak Alam sebagai mahkluk sosial. Sejalan dengan falsafah bangsa ini Bhineka Tunggal Ika, yang membuat AAC 2 tidak hanya memiliki kesan tersendiri bagi para penikmatnya, akan tetapi juga sebagai cermin yang memantulkan bayang-bayang realita yang sering tidak kita sadari.

Please follow and like us:

Post Author: konco

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *