Saracen, Psikologi Membenci, dan Lontong Sayur.

Izinkanlah saya memulai tulisan ini dengan consensus bersama bahwa Saracen, kelompok yang sedang tenar itu, untuk para fans-nya ( dengan hoax dan kebencian yang mereka keluarkan yang mana tidak mengandung nilai kritik sama sekali tapi memiliki omset ratusan miliar ), sama dengan lontong sayur yang isinya nangka muda saja, bisa dinikmati tapi tidak bergizi.

Layaknya lontong sayur, dagangan seperti ini memang terbilang laku.

Di media sosial, para konsumen yang lapar mengkonsumsi drama untuk tidak fokus sejenak dari masalah-masalah dalam hidup mereka ( Ya, alam bawah sadar kita senang melihat orang lain menderita untuk mengalihkan pikiran dari hidup kita yang tidak kalah pahitnya )

Walau secara psikologi,  orang yang senang menyebarkan hoax, SARA dan kebencian diduga kuat memiliki gangguan neurotik. Akan tetapi hormon dopamine yang bergemerlapan di otak setiap kali kita mengkonsumsi racikan mereka, membuat neuron-neuron kita ingin selalu terjebak dalam lingkaran api ini.

Seperti perbandingan lontong sayur spesial  dengan telur rebus dan lontong sayur tok nangka muda saja.

Terminologi mengkritik dan menghujat adalah dua hal yang berbeda.

Mengkritik adalah memberikan saran yang membangun, sementara menghujat adalah usaha sengaja untuk menyerang pihak lain.

Tapi ya, mungkin karena lingkungan distribusi konten yang lebih akrab dengan nangka muda yang dikonsumsi lebih karena faktor budaya daripada penjelasan ahli gizi dari Amerika yang mungkin tidak dilirik karena isu  SARA 🙂

Lingkungan secara tidak sadar tetap mempertahankan eksistensi orang-orang yang menebar kebencian dan hoax yang berlindung dibalik kritik.

Layaknya nangka muda yang hanya berisi karbohidrat, konflik selalu membuat kenyang bagian otak terbaik manusia.

Karena Faktanya, manusia lapar oleh keingin-tahuan

Oleh karena itu, kenapa banyak sumber daya dopamine yang berlimpah ketika kecelakaan lalu lintas terjadi.  ( if you know what I mean )

Kalau dipikir lagi, ternyata psikologi benci-membenci ini ternyata lebih memusingkan dari sekadar menikmati lontong sayur yang isinya nangka muda semua (yang kalau kebanyakan) negative impact-nya bisa menyebabkan diabetes, sakit jantung, dan maag kronis.

 Walau bedanya lontong sayur tidak sulit utuk dinikmati semua kalangan, tanpa terhalang Suku, Ras dan Agama.

Gambar: Google

Muhammad Abdul Aziz || KoncoDutaDamai.id

Menyampaikan Pesan Layaknya Sahabat

 

Please follow and like us:

Post Author: konco

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *