Radikalisme Mengintai Pengangguran

Tulisan ini terinspirasi dari TED TALKS: Mohamed Ali: The link between unemployment and terrorism

Konco Damai-Mari kita mulai tulisan ini dengan sebuah kisah seorang pemuda dari kota kecil, di utara Somalia.

Daerah asalnya adalah salah satu wilayah miskin Somalia yang mana kelaparan adalah menu harian mereka.

Tidak ada kesempatan dalam hal pekerjaan, sang pemuda memutuskan untuk merantau ke Mogadishu, yang merupakan ibukota Somalia.

Setelah sampai disana, kenyataan pahit yang harus diterima, tidak ada peluang.

Akhirnya sang remaja terdampar di wilayah kumuh pinggiran kota.

Setelah satu tahun tanpa kemajuan berarti, seorang pria datang kepadanya.

Pria ini membawanya kesebuah kelompok yang mencukupi kebutuhan pangan dalam keseharianya.

Mereka memberinya materi. Sedikit uang untuk membeli pakaian baru, dan sebagian lagi untuk dikirim pulang pada keluarga di kampung.

Mereka memperkenalkanya pada seorang wanita.

Lalu mereka menikah.

Hingga, sang pemuda punya visi dalam hidupnya.

Satu pagi di Mogadishu, dibawah temaramnya langit pagi.

Sebuah bom mobil meledak.

Si pemuda dari kota kecil dengan cita-cita dan impian besar tersebut adalah pelaku bom bunuh diri pagi itu.

Kelompok pria yang mendekatinya tersebut adalah kelompok Al-shabaab, salah satu kelompok dalam jaringan radikal Al-qaeda.

Jadi, bagaimana kisah yang bermula dari seorang pemuda dari kota kecil yang mencari hidup yang lebih layak di Ibukota ini berakhir dengan meledakkan dirinya sendiri?

Pemuda ini menunggu

Menunggu kesempatan dalam “masa penantian”

Menunggu dengan harapan dan impian

Sampai “mereka” datang kepadanya

Lalu, kisah-kisah lain serupa terus berulang di seantero dunia.

Semisal, kericuhan yang dibuat oleh kelompok pengangguran di Johannesburg

Atau kerusuhan di kota London yang dilakukan oleh sekelompok pemuda yang tidak punya pekerjaan.

Ketimpangan ekonomi yang parah dalam sebuah wilayah akan menyisakan rumput atau jerami yang mudah terbakar. Tidak susah untuk menemukan contoh kaum muda yang tidak banyak mendapat kemakmuran dalam perkembangan sebuah daerah.

Secara statistik, pada 2030, 3 dari 5 penduduk kota akan diisi oleh remaja dibawah umur 18 tahun. Jika ketimpangan pemerataan dalam kemakmuran pemuda ini masih berlanjut, sama artinya dengan memberikan kesempatan yang lebih lebar untuk gangster, paham radikal, dan kekerasan untuk masuk kedalam “masa penantian” mereka.

…dan Indonesia adalah salah satu Negara tujuan potensial hal-hal negatif ini.

Dengan tingkat pengangguran lebih dari 7 juta orang (Badan Pusat Statistik (BPS) ) bukanlah sebuah kemustahilan tragedi di Mogadishu akan kembali terulang di Negeri ini.

Muhammad Abdul Aziz || KoncoDutaDamai.id

Menyampaikan Pesan Layaknya Sahabat

Please follow and like us:

Post Author: konco

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *