Merajut Kebersamaan Dalam Ukhwuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathoniyah

KONCO — PADANG – “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.” (QS Al-Hujurat: 10)

 

Ukhuwah adalah kata yang dari bahasa arab yang berarti persaudaraan. Fenomena jaman now, rasa ukhuwah atau rasa persaudaraan antara sesama muslim dan seluruh umat beragama lainnya bisa dikatakan sangat kurang, bahkan bisa dikatakan sudah ternodai oleh kepentingan dunia, kepentingan yang diimplikasikan dengan tindakan saling menghujat, menjelekkan, menjatuhkan, menyalah-nyalahkan dan merasa diri paling benar.

 

Sangat banyak orang-orang yang tidak memperdulikan kesengsaraan orang lain bahkan masih banyak yang belum bisa menerima sebuah kebersamaan dalam perbedaan untuk dijadikan kekuatan dalam persatuan. Begitu banyak yang terikat dengan rasa egonya yang tinggi. Padahal, pada kenyataannya perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan warna dalam kehidupan.

 

Di dalam agama islam sendiri, terkandung ajaran bagaimana cara menjalin hubungan yang baik antar sesama yang disebut dengan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniyah. Secara umum ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara se- akidah.

 

Sementara Ukhuwah wathoniyah merupakan bentuk persaudaraan yang diikat oleh jiwa nasionalisme tanpa membedakan agama, suku, warna kulit, adat istiadat, budaya dan aspek-aspek lainnya. Begitu pentingnya hubungan kebangsaan ini sehingga Rasulullah pernah bersabda “Hubbui wathon minal iman” yang artinya cinta sesama saudara setanah air termasuk sebagian dari iman.

 

Disini sangat jelas sekali bahwasanya agama islam tidak pernah mengkotak-kotakkan perbedaan dalam hal hubungan sesama manusia, begitu juga dengan agama lainnya. Lantas, kenapa kebanyakan kita masih saja berbuat yang sebaliknya.

 

Indonesia sebagai Negara yang menjunjung tinggi rasa persatuan dan kekeluargaan tentu sangat terancam dengan fenomena seperti ini. Keberadaan ukhuwah dalam kehidupan nasionalisme bangsa sangat jauh. Sementara di era milenial seperti sekarang ini, semangat nasionalisme harus tetap dijaga bahkan mesti ekstra dijaga. Hal ini agar bisa berjalan menyesuaikan perkembangan jaman.

 

Jika di era kemerdekaan dulu, bentuk nasionalisme diwujudkan dengan cara memanggul senjata dan perang melawan penjajah, maka di era milenial seperti sekarang ini, tentu tidak relevan lagi jika harus dengan cara memanggul senjata. Saat ini, Indonesia butuh generasi yang cerdas, yang mampu berkreasi dan berinovasi agar Indonesia tumbuh menjadi negara yang maju. Dan kecerdasan itu juga harus diimbangi dengan wawasan kebangsaan serta pemahaman agama yang baik dan benar.

 

Faktanya, tidak ada satupun agama-agama yang ada di Indonesia yang menganjurkan kebencian. Suku-suku yang berkembang di negeri ini, juga tidak ada satupun yang menganjurkan kebencian. Sebagai generasi yang cerdas, sewajarnya kita tidak mudah terprovokasi oleh kebencian-baik yang dipancing melalui dunia nyata-maupun dunia maya yang merupakan sumber terbesar segala bentuk provokasi. Sebaliknya, kita harus bisa menangkis kebencian itu dengan menebarkan pesan-pesan damai. Karena Indonesia bukanlah negara yang mudah marah, tapi Indonesia adalah negara yang ramah.

 

Jika kita bisa menerapkan hal ini dalam keseharian, maka kita tidak hanya ikut aktif dalam menjaga perdamaian, tapi juga aktif menjauhkan generasi penerus dari ideologi radikal yang mengedepankan kekerasan. Saatnya, generasi jaman now aktif memperkokoh persatuan dan kesatuan, dengan cara menanggalkan provokasi kebencian dan adu domba. Karena perilaku negatif ini, justru akan menjauhkan Indonesia dari tradisi toleran antar sesama.

Sintia Rikardo || KoncoDutaDamai.id

Menyampaikan Pesan Layaknya Sahabat

Please follow and like us:

Post Author: konco

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *