Meneliti Wajah 72 Tahun Indonesia

Republik Indonesia memasuki usia kemerdekaan yang ke-72 tahun pada Kamis 17 Agustus 2017. Acara rutin pun di gelar, di Indonesia maupun di kedutaan besar Republik Indonesia di berbagai negara. Seperti biasa pula Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato di DPR dan disusul peringatan detik-detik proklamasi di Istana Negara.

Dan memasuki usia 72 tahun, Indonesia menikmati pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan mencapai di kisaran 5,2%, sementara sejumlah negara di kawasan Eropa sedang berjuang pulih dari krisis ekonomi.

Itu jelas sebuah prestasi walau pada saat bersamaan sejumlah masalah masih terus membayang-bayangi, antara lain korupsi, penegakan hukum, distribusi pendapatan,radikalisme, persekusi, pembungkaman -yang antara lain tercermin dari insiden penyiraman air keras pada Novel Baswedan.

Konco.dutadamai.id ingin menghimpun perenungan Anda tentang kemerdekaan dalam skala regional Sumatera Barat dan sekitarnya.

Apakah misi dan visi saat proklamasi 68 tahun lalu sebagai sebuah negara kesatuan yang sejahtera sudah tercapai?

Atau apa pendapat Anda tentang prioritas yang harus dicapai Indonesia untuk masa depan, apakah pemberantasan korupsi atau pertumbuhan ekonomil yang lebih tinggi, misalnya.

Ragam pendapat

“Pendapat saya sebagai seorang pelajar Indonesia adalah seharusnya di usia yang tengah diinjak ini, Indonesia mampu berbenah dalam segi apapun. Jangan hanya mengumbar janji atau saling menyalahkan. Kini saatnya untuk meningkatkan keamanan, kesejahteraan, juga perekonomian di Indonesia. Berantas pula para kriminal-kriminal yang ingin ‘mencuri’ aset bangsa. Jangan hanya ingin ‘menikmati’ apa yang Indonesia miliki tapi juga harus mampu menjaga serta merawatnya.” Indra Gunawan, Jambi

“Saya bukan pemerhati yang mumpuni. Tetapi saya prihatin dengan etika generasi muda. Di pelosok desa sudah jarang ditemui kesantunan. Apapun usaha yang kita buat, tak akan ada artinya meski usia negeri ini bertambah. Generasi penerus yang harus dibenahi. Hallo yang berwenang di dunia pendidikan. Bagaimana kalau etika dimasukkan lagi dalam kurikulum SD sampai SMA. Agar tercetak anak-anak beretika. Jenius bisa digeber semasa kuliah. Beretika harus mulai sejak dini.” Fauza Putera, Solok

“Selama korupsi masih ada di negeri Indonesia maka kemerdekaan hanyalah wacana. Peringatan kemerdekaan yang setiap tahun dikumandangkan tanpa makna apa-apa hanya seremonial belaka karena pemimpin yang diberi amanah tidak menjalankan yang tertera di Undang-undang Dasar 1945.” Alfath Khudri, Padang.

Saya masih ingat pidato mantan presiden Soeharto pada tahun 1993, katanya memasuki tahun 2000 Indonesia tinggal landas. Tapi apa buktinya? Malah kondisi bangsa ini kian terpuruk. Banyak yang masih hidup di bawah garis kemiskinan sementara yang kaya terus bertambah kaya. Kesenjangan sosial ekonomi dalam masyarakat amat besar. Adib Fikri, Bukittinggi

Tanah airku mereka gadaikan kepada orang asing, kekayaanku masih tetap terjajah, bumiku dihabiskan demi kepentingan pribadi. Renungkan saudaraku. Indonesia ku jaya. Sahilla Syahidan, Padang

“Kurun waktu yang cukup panjang dilakoni bangsa. Pengorban dalam revolusi fisik, baik materi maupun air mata, bahkan darah tertumpah pula menyirarami ibu pertiwi. Jangan pernah lupakan pengorbanan dan amanah para pejuang. Mari instropeksi dan evaluasi diri. Sudahkah kita benar-benar merdeka, mandiri, sejahtera serta berdaulat sebagai suatu bangsa. Ataukah selama ini telah mengkhianati cita-cita amanah para pendiri bangsa. Perlu kejujuran pula.” Saunir Saun, Padang.

“Tidak mudah memang membangun negara kepulauan dengan beragam budaya dan bahasa. Tentu tingkat kesuburan tanah dan sumber yang tidak merata dan hal itu juga menjadi salah satu faktor.” Bastari, Padang Panjang.

 

Muhammad Abdul Aziz || Konco Duta Damai Padang

Menyampaikan Pesan Layaknya Sahabat

Please follow and like us:

Post Author: konco

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *