Jalan Murtad Minangkabau

Konco Damai, –Dalam petatah-petitih Minangkabau, orang minang diibaratkan bagai kucing. Kucing itu binatang lihai, warnanya kuning berkehendak kemenangan, klop dengan phrase “taimpik ndak diateh, takuruang ndak dilua” (terhimpit hendak diatas, terkurung hendak diuar). Darah bargaining kental sekali dalam darah anak minang, deal-dea-lnya harus jelas, cupak jo gantang (untung, rugi), walaupun selalu dalam lingkup pragmatis “lamak diawak, katuju diurang”(enak untuk kita, sesuai untuk orang lain).

Ke-pragmatisan anak Minang jangan ditanya lagi, kalau bukan karena pemahaman ini, tidak mungkin Minang ditasbihkan jadi satu-satunya competitor bangsa Tionghoa dalam mengeksplorasi dunia, orang Minang ada dimana-mana. Orang Minang itu flexible tapi mentalnya pemberontak, selalu ingin bergerak, selalu ingin berkembang, tapi kalau sudah mencapai consensus haram untuk menjilat ludah sendiri.

Senin lalu, 07 agustus 2017, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, dalam pembukaan pelatihan duta damai dunia maya 2017 kota Padang, menegaskan, suatu kemustahilan orang Minang asli akan begitu bodohnya terjebak dalam paham-paham yang bertentangan dengan DNA asli mereka.

Dari zaman kerajaan-kerajaan hingga masa perjuangan, tinggal sebut saja, Datuak Parpatiah Nan Sabatang, Datuak Ketumangguangan, Buya Hamka, Bung Hatta, Agus Salim, Tan Malaka, hingga mafia legenda perdagangan minang Datuak Mangkuto, semuanya adalah konseptor, bukan konsumen doktrinisasi. Darah mereka darah mastermind, bukan keturunan kacung. Mereka pemimpin, bukan pesuruh.

Boleh dibilang, dengan kenyataan yang seperti ini. Perilaku semacam radikalisme bisa disebut sebagai jalan murtad bagi setiap orang yang diwarisi identitas Minangkabau. Singkat kata, bagi oknum yang tidak rahmatan lil allamin, tidak usah repot-repotlah mampir kesini untuk sekedar umbar-umbar janji-janji atas nama yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Orang minang cenderung sinis terhadap hal-hal abstrak, kan nanti jadi susah kalau sampai melekat gelar “alah kanai” di kening lalu diboyong ramai-ramai ke Padang Gaduik, begitu.

 

Muhammad Abdul Aziz || KoncoDutaDamai.id

            Menyampaikan Pesan Layaknya Sahabat

Please follow and like us:

Post Author: konco

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *