Gagalnya Sebuah Produk Bernama Terorisme ( Bagian 1 )

Konco Damai-Nco, di tahun 2017 ini tidak diragukan lagi secara tidak langsung, kita mungkin kerap berkomunikasi dengan radikalisme lewat produk berupa konten-konten radikal di sosial media.

Kita berada di tengah-tengah peperangan melawan versi baru dari terorisme.

Semacam terorisme model lama, versi tradisional, tapi telah dikemas khusus untuk abad ke-21.

Satu hal yang cukup penting saat melawan paham radikal, adalah bagaimana kita mengartikannya?

Karena perspektif seseorang terhadap sesuatu akan menentukan bagaimana individu bereaksi terhadap hal tersebut.

Jadi apabila kita memiliki persepsi yang cenderung tradisional mengenai terorisme dan radikalsime, bahwa mereka adalah salah satu kejahatan, salah satu peperangan, lalu bagaimana cara kita menanggapinya?

Apabila kita memakai pendekatan yang lebih modern, dan apabila persepsi kita mengenai terorisme berbentuk sebab-akibat, maka secara alami, tanggapan yang akan timbul ke permukaan menjadi lebih tidak simetris.

Kita hidup di jaman yang modern dan global. Para teroris telah beradaptasi dengan semua pembaruan ini.

Lalu, ini juga adalah sesuatu yang juga harus kita lakukan, ini berarti orang-orang yang bekerja melawan terorisme dan radikalisme juga harus memulainya, mereka juga harus lebih peka terhadap perubahan, mereka harus mulai mengenakan Virtual Reality, paham tentang Artificial Intelligence, Kacamata Google, atau semacamnya.

Sementara bagi saya, saya ingin kita semua untuk mulai menganggap terorisme sebagai merk dagang, semacam Coca-Cola.

Kedua-duanya sama-sama berakibat buruk untuk kesehatan.

Ketika kita menganalogikan terorisme sebagai merk dagang, kita akan menyadari bahwa terorisme adalah produk gagal.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, terorisme seperti minuman bersoda tinggi, tidak baik untuk kesehatan.

Merk ini tidak benar-benar membuktikan apapun yang tertulis di kemasannya.

Semuanya omong kosong belaka.

Lalu, kita juga akan menyadari bahwa terorisme memiliki kelemahan.

Merk ini memiliki kelemahan.

Tapi terorisme juga memiliki konsumen yang mempercayai mereka.

Mereka memiliki target market.

Merekalah orang-orang yang membeli, mendukung, dan memfasilitasi brand ini, dan merekalah orang-orang yang perlu kita jangkau.

Kita harus menyerang merk ini di depan orang-orang tersebut.

Ada dua cara untuk melakukannya, yang pertama adalah dengan menurunkan pasar mereka.

Maksudnya, kita harus melawan produk mereka dengan produk kita.

Dengan counter culture yang lebih menarik, lebih baik, lebih catchy.

Kita harus bersaing. dan menunjukkan bahwa produk kita lebih baik.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah menjatuhkan citra produk tersebut.

Salah satunya dengan menyerang mitos-mitos yang berhubungan dengan merk tersebut.

Saya kira, kita perlu fokus pada hal-hal tersebut dan menyampaikannya.

Kita harus menyingkap bahaya dari produk ini.

Kita tidak hanya harus memburu para dalang terorisme dan radikalisme.

Tidak hanya mereka yang memasarkan terorisme, yaitu mereka yang mendanai dan mefasilitasi terorisme, tapi juga mereka yang mengkonsumsi produk ini.

Maka hal terpenting adalah interaksi di jalur distribusi konten-konten radikal tersebut.

Kita perlu ikut terlibat, kita perlu mendidik, dan kita juga perlu berdialog dengan mereka baik di dunia nyata maupun kolom komentar dunia maya.

mungkin akan terjadi gesekan, tapi bayangkan bagaimana naluri manusia yang menyukai konflik akan mem-blow up dialog tersebut sedemikian rupa untuk mem-viralkan merk kita pada target market mereka.

Kembali pada topik mengenai merek gagal ini.

Coba pikirkan mengenai mekanisme pendistribusian.

Bagaimana cara kita menyerangnya?

Ini sangat substansial, karena menurunkan pasar merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat umum.

Kita harus menunjukkan bahwa kitalah yang lebih baik.

Kita perlu menunjukkan nilai-nilai kita.

Kita perlu mempraktekkan perkataan kita.

Tapi jika kita berbicara mengenai menjatuhkan sebuah produk, apabila para teroris adalah Coca-Cola dan kita adalah Pepsi, Menurut saya, sebagai Pepsi, apapun yang kita katakan tentang Coca-Cola tidak akan dipercaya oleh orang-orang.

(Bersambung)

Gambar: Google

Muhammad Abdul Aziz || KoncoDutaDamai.id

Menyampaikan Pesan Layaknya Sahabat

Please follow and like us:

Post Author: konco

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *