Damainya Padang dari Kacamata Sejarah

Konco Damai- Ranah Minang dengan falsafahnya “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” terkenal religius. Sebagai ibu kota propinsi Kota Padang dan kota pelabuhan wilayah ini dihuni oleh beragam etnis sejak dahulu, sejarahnya bisa dilihat sejak masa penjajahan Belanda

Sampai di masa awal kemerdekaan dan setelah kemerdekaan seperti saat ini. Etnis Minang menjadi mayoritas diantaranya, Tionghoa, Nias, Mentawai dan India.

Dari sini bisa kita lihat bahwa kebhineka-an menjadi ciri utamanya. Menurut saya pluralisme atau keberagaman yang sangat menjunjung toleransi sudah melekat pada jiwa masyarakatnya, membuat Padang terlalu kuat terhadap ledakan hal-hal berbau kekerasan dan inkonstitusional.

Perdamaian dan Kesejahteraan merupakan motto utama di masa pemerintahan Belanda yang berasal dari bahasa Latin “Salus Papuli Suprema Lex” yang berarti keselamatan warga merupakan hukum tertinggi. Dari moto  tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa warga kota dan pemerintahnya sangat mencintai perdamaian dan kebersamaan.

Hal tersebut membuat masyarakat Padang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi kemanusiaan dan keadilan dalam kesehariannya.

Hal ini membuat padang sepi pengaruh paham menyesatkan dan Isu-isu negatif seperti yang terjadi belakangan ini. Etnis Minang yang terkenal religius juga memahami nilai-nilai Islam yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian.

Sebagai ikrar nyata, belakangan juga diresmikan monumen Merpati perdamaian di pantai Muaro Lasak oleh Presiden Joko Widodo pada 12 April 2016, Simbol Merpati yang dipakai pada monumen tersebut adalah Simbol Cinta dan juga berarti Umur yang panjang. Menjadikan Padang layaknya Kota perdamaian dunia.

Bemi Saputra || KoncoDutaDamai.id

     Menyampaikan Pesan Layaknya Sahabat

Please follow and like us:

Post Author: konco

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *